Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Rizqi Amalia
"Dawn, sorry, can I ask Mujito to take me to the hospital?", kata gua sembari nangis.

Dawn yang lagi diskusi soal report jadi bingung. Ga cuma Dawn, temen kantor yang lain juga heran. Lah ini anak kenapa? Tadi masih baik-baik aja, sekarang mewek sambil minta ke rumah sakit.

Beberapa hari sebelumnya...
Hari terakhir di Padang sebenernya lumayan menyenangkan. Cuma sayang, batuk kering yang gua derita dari beberapa hari sebelum berangkat ga juga hilang. Padahal gua udah menghabiskan 1,5 botol Actifed. Agak ganggu sih, karena setiap kali batuk, gua merasa pusing dan sakit di tenggorokan. Tapi kan ga boleh manja! Jadi gua sok tegar aja, padahal udah ga tahan.

Akhirnya sampe di bandara demam gua makin tinggi. Pusingnya minta ampun. Emang gitu kan kalau lo demam tinggi. Pasti pusing, mata panas, dan lemas. Gua ya gitu juga. Makanya selama di bandara dan sepanjang perjalanan pulang, gua banyak diem dan tidur. Niat buat nginep di Kalibata juga gua urungkan. Ngerinya gua sakit beneran, malah jadi ngerepotin temen kan. Akhirnya gua balik ke Cibinong.

Sampe rumah ga pake mandi, gua langsung tidur dan berharap besok pagi sembuh. Gua kepikiran karena ada project yang mengharuskan gua moderating. Jadi ya harus fit banget badannya karena jadi moderator tuh semuanya kerja. Ya otak, ya fisik juga emosi.

Besok paginya alhamdulillah demam gua turun. Gua merasa enakan meskipun belum fit banget. Waktu Dawn nanya, gua cuma bilang, "I think I'm okay. Well I don't know. But, hopefully I'm okay.". Dia senyum sambil bilang, "You'd look okay.". Mungkin cuma perasaan gua aja kali ya kalau masih agak-agak ga enak badan. Buktinya gua berhasil melewati hari ini; moderating kelar, notes tinggal dilengkapi sedikit, dan gua pulang dengan riang.

Selasa pagi..

Gua berangkat ke kantor lebih pagi hari ini karena janjian mau diskusi report sama Dawn pas jam makan siang. Tapi gua masih punya beberapa slide yang belum selesai dan berencana gua selesaikan di kantor. Kondisi gua pagi itu menurut gua baik-baik aja. Ga ada demam dari semalam, batuknya juga sudah berkurang. Malah gua merasa lebih baik dari kemarin! Makanya gua pede aja sih sampe kantor langsung kerja.

Sekitar jam 09.30 badan gua terasa ga enak. Gua merasa suhu ruangan terlalu dingin padahal si Titis yang duduk di samping gua merasanya biasa saja. Gua naikin suhu AC kantor, terus balik kerja lagi. Ga lama badan gua menggigil. Gua yang goblok ini masih mikir kalau itu karena AC yang terlalu rendah suhunya. Dan yak, gua naikin lagi tuh suhu AC sampai 3 kali. Tapi rasanya percuma karena badan gua makin menggigil, kepala gua berat, dan pusing banget. Gua ga tahan, akhirnya nangis. Gua ini anaknya emang cengeng. Ga kuat nahan sakit, apalagi sakit hati.. Eaaaa.. Makanya kalau sakit sedikit langsung lebay reaksinya. Tangis gua makin pecah pas minta izin untuk minta Pak Mujito nganter gua ke rumah sakit.

Oki mijetin leher gua sambil balurin minyak kayu putih. Badan gua terasa panas banget katanya. Dinni bengong, bingung harus ngapain, Dawn juga gitu. Akhirnya Dawn nyuruh Dinni nganter gua ke rumah sakit. Sambil nunggu Pak Mujito..

"Lo kenapa sih, Ki?", tanya Dinni.
Gua bengong. Ini orang ga liat gua sakit atau gimana ya..
"Lo kenapa nangis? Ada apaan?", lanjutnya.
"Gua pusing, panas badan gua. Nih pegang.."
"Iya sih panas.. Cuma itu doang? Lo pake nangis sih, gua kira ada masalah apa.."
"Engga, emang gitu kalau gua sakit dan udah ga tahan. Pasti nangis.."
"Ohh gua kira karena ada masalah.."
"Ya kalau ada masalah, ya nangis juga sih.."

Gua sama Dinni ketawa kalem. Pak Mujito ga lama dateng dan kita pergi ke SOS International Hospital.


Sampai di sana, suster ngecek tekanan darah dan suhu tubuh. Tensi sih normal, cuma demamnya lumayan tinggi juga: 40,5 derajat. Pantesan gua pusing parah, badan juga pada nyeri.
Duh.. Aku kenapa ini ya Allah.. *lebay*
15 menit kemudian dokter Franky dateng dan memeriksa gua lagi. Dia menyarankan gua untuk rontgen dan cek darah karena takutnya gua terjangkit Malaria atau DBD atau thypus. Ngeri kan?!

Gua dianter Dinni ke ruang rontgen terus ke ruang ambil darah. Sebelum diambil darahnya, suster ngasih tau biaya yang harus gua bayar untuk cek darah dan meminta tanda tangan. Aduh, gua ga bisa mikir, akhirnya gua bilang ke suster kalau dia harus minta tanda tangan Dinni.

Darah gua diambil sebanyak 4 tabung. Yang 3 segede jari tengah, yang 1 gedenya 3 kali tabung kecil. Ngeri banget sih ini.. Buat ngecek aja diambil banyak darah gua. Hhhh.. Selesai ambil darah, kami harus nunggu hasilnya kurang lebih 2 jam. Dinni ngebeliin gua roti buat makan siang dan minum terus dia balik ke kantor untuk ngambilin laptop gua.

Ga sampai 2 jam, hasil tes darahnya udah keluar. Dinni saat itu masih di jalan menuju ke rumah sakit. Gua dengerin dokter Franky sendirian. Hasilnya alhamdulillah negatif semua. Ya thypus, ya malaria, ya DBD, semua negatif. Alhamdulillah.

"Terus saya kenapa dong, dok?", gua penasaran.
"Ini sepertinya bakteri dari udara. Makanya masih harus nunggu seminggu untuk hasil seluruhnya. Nunggu bakterinya berkembang dulu, biar tau itu bakteri apa dan gimana penanganannya."
Gua ngangguk. Udah ga bisa mikir lagi.
"Istirahat di rumah ya, jangan kerja dulu. Soalnya bakterinya bisa menular dari udara. Kasian temen kantor. Saya kasih istirahat 3 hari ya.."
Gua ngangguk lagi, terus bilang terima kasih.

Resep dari dokter Franky gua kasih ke apotek dan minta dibikinin draft invoicenya. Setelah lima menit nunggu, jadi juga draft invoicenya. Dinni sudah bawel WhatsApp mulu minta dikabarin berapa duit yang harus dibayar..

"Nih.."

Gua kirim foto invoicenya sambil nunggu dia dateng. Sekitar setengah jam, Dinni akhirnya dateng juga! Horeeee.. Langsung dibayar semua biaya rumah sakit dan seketika naik darah karena ngeliat gua dikasih Panadol. Sebenarnya gua dikasih 4 macam obat, salah satunya Panadol. HAHAHA!

"Gila, tiga setengah juta lo dikasih Panadol? Gua mau ngomong sama dokternya!"
Udah serem dah kalau dia marah. Datang lagi lah kita ke ruangan dokter Franky. "Dok, ini gimana ya hasilnya? Tadi saya kurang jelas.", kata si Dinni.

Panjang lebar dokter Franky ngejelasin sampe Dinni ngerti. Dan akhirnya ngerti juga. Haha.. Kita balik dan di perjalanan..

"Ki.."
Gua ketawa. Iya, udah bisa ketawa gua.
"Tiga setengah juta lo dikasih Panadol doang.. Tau gitu gua bawa aja lo ke klinik depan kantor! Paling habisnya cuma 50 ribu!"
Gua ketawa lagi. "Ya masih ada hasil tes darahnya yang belum keluar kan. Lihat aja minggu depan gimana hasilnya. Tapi.. Lucu sih ini kalau cuma flu doang."
Gua dan Dinni ngakak..

Seminggu kemudian..
"Halo, dengan Mba Rizqi Amalia?"
"Ya, saya sendiri."
"Mba, saya Evi dari SOS."
"Oh iya, gimana Mba hasil tes darah saya?"
"Hasilnya bagus kok. Ini bakterinya ga berkembang. Mba gimana keadaannya?"
"Masih suka naik turun sih panasnya, tapi ga setinggi kemarin. Cuma feverish aja."
"Ok, kalau agak tinggi boleh ke sini lagi Mba. Ketemu dokter Franky."
"Iya."
"Baik, selamat siang Mba."
"Siang. Makasih ya.."

Gua sama Dinni pandang-pandangan. "SOS barusan."
"Terus?"
"Ya ngasih tahu kalau bakterinya ga berkembang, jadi semua baik-baik aja."
"Jadi elo flu doang nih?"

Kita ngakak lagi. Kadang emang kudu gitu kali ya. Butuh drama dulu biar kita lebih bersyukur.. Alhamdulillah banget sih semua penyakit mengerikan hasilnya negatif. Tapi kalau flu doang menghabiskan 3,5 juta, mungkin ini namanya Flu Dewa.

 
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Here we go.
We're in the last chapter of this Life's Great book.
Apparently, it's not as great as the title.

We broke up, for the million billion times.
It's not him, it's me. As you all know, I'm the bitch.
It's not because I'm cheating on him. No, I would never do that to him.
I love him. So much. But, love is not enough to build a good, strong relationship.



Yeah, after 5 years, I should have known that before.
But back then, I was too busy.
I was busy drawing up perfect plans for our future. Busy trying to be a perfect girlfriend.
You see how stupid I am.
I was busy to portray the future while he hungers for my time now.
It's not what he needs. He just needs me. A regular-simple-not perfect me, to always be there every single time in his life.
Oh well, stupid me.

Surely I would do something smarter, if only I could turn back time.
Something that makes him falling in love with me for the first time. 
Something that I don't have to try as best to be it.
I just need to be me. The old me.

Because..
We can't just fix everything by saying I love you.
We can't just fix everything by saying I'm sorry. 
Sometimes you just have to set your ego aside.
And remember that the love that you have for that person is way more important than winning.


But it’s too late, don’t you think?

Yes. It is.


The End.
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Gua mau flashback sebentar yah ke bulan di mana hidup gua sejahtera sentausa tanpa beban apapun, kecuali lemak membandel di badan.

Dua bulan lalu..
Lagi anteng-antengnya maen game, temen ngajak ke kampus buat pengarahan skripsi. Baeklah, meskipun weekend, gua usahain dateng. Sejam, dua jam, akhirnya selesailah perhelatan ini, gua pulang, maen game lagi, nonton tipi dengan santai, dan melakukan hal-hal penting lainnya seperti tidur dan makan. Hidup gua sungguh bahagia pada saat itu, sampai akhirnya kabar buruk datang menghampiri. Ternyata oh ternyata, deadline proposal skripsi jatuh pada tanggal 12 Agustus yang mana itu hanya tinggal 10 hari lagi dan gua gak tau mau nulis apaan.

Berangkatlah gua ke kampus, menuju perpus, dan pulang dengan harapan pupus. Kenapa? Karena pembimbing akademis nyuruh gua buat tilawah, waktu dimintai pendapat mengenai topik yang mau gua ambil. Gimana bisa beres skripsi gua hanya dengan tilawah tanpa usaha?? Stress dan eneg banget, man rasanya digituin. Mana proposal gua dibaca pun enggak sama tuh dosen. Ibaratnya tuh ya, lo ditolak duluan sebelum nembak. Pediiiiiihh..!!

Well.. Setelah tiga kali ditolak (iya, man, tiga kali!!) akhirnya ada juga yang lolos sebiji. Gua dibantu salah satu teman, Maria Ulfa, yang kasian ngeliat gua ditolakin mulu proposalnya. Hehehe.. Dari situ, Alhamdulillah udah mulai ada kemudahan sedikit demi sedikit, seperti dapet dosen pembimbing yang gua suka dan gua kenal, jadwal bimbingan yang sama dengan jadwal kuliah (jadi gak perlu ongkos dua kali kan ke kampusnya :p), dan sebagainya.

Apakah lancar jaya sampe di sini? Belum, Kawan! Perjuangan skripsi ini belum selesai! Dari tragedi proposal yang menguras darah dan air mata, bab 1 dan bab 2 gua juga banyak menuai koreksian dari dosen. Entah redaksionalnya gak pas, penulisan typo, sumbernya gak jelas, dan interpretasi kalimat yang kejauhan. Kadang-kadang males sih ngerjainnya, apalagi kalo udah ketemu bab yang banyak koreksiannya, tapi dijalanin dengan ikhlas sajah yah.. Kalo gak dipaksain gitu, kapan mau selesainya?

Tiap minggu, target kudu tercapai! Semisal minggu ini gua ngerjain bab 1, serahin ke dosen, ada koreksian dong pastinya, pulang, sampe rumah gua benerin tuh bagian yang kudu direvisi, terus entah kapan aja ketika ada kemauan buat ngerjain bab 2, gua kerjainlah bab 2, yang penting minggu depannya lagi gua udah nyerahin revisian bab 1 dan bab 2. Gitu terus sampe masalah perskripsian ini selesai. Tapi, gak lupa gua sediain minggu males. Jadi ada 1 minggu full di mana gua gak mau nyentuh skripsi sama sekali biar otak gua gak jenuh. Teori mah udah oke yah.. Mudah-mudahan sih kalopun ada minggu males, gak sampe keterlanjuran malesnya. Hehehe.. AMIN!

Perkembangan skripsi sampai saat ini adalah pretest udah berhasil dilaksanakan dengan baik dan agak benar. Hahahaha.. Ada cerita lucu saat pretest berlangsung yang bakal gua ceritain di postingan selanjutnya. Dan hari ini rencananya mau ke kampus nyerahin kuesioner ke Nova Agung, temen gua yang jiwa usahanya gede - kebetulan, usaha emaknya yang udah berkembang jadi CV. Multidimensi ini adalah salah satu responden gua, dan mungkin gua akan ke perpus juga, nyari skripsi ato thesis tahun-tahun lalu sebagai masukan ide. Hehehe..

Mohon doanya ya, Kawan! Semoga perskripsian ini cepet selesai, dikasih kemudahan dalam pengerjaan skripsi dan sidang, aku diwisuda dengan berat badan 10 kg lebih langsing dari sekarang, kerja, dilamar, nikah dengan berat badan ideal, punya anak, dan bahagia sentausa. Hahahah.. AMIN!
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Gambar diambil dari Om Google


YANG LAGI NYUSUN SKRIPSI MANA SUARANYAAAAHH??! *tereak*

Yak! Sesuai dengan judul postingan, kali ini gw mau curhat sesama mahasiswa tingkat akhir. Sebenernya susun-menyusun TA ini bukan hal baru dalem hidup gw. Kenapa? Yah, kayak yang lo tau, dulu kan gw sempet kuliah D3 dan sekarang sedang proses menyempurnakan S1 di UI. Jadi penyusunan skripsi ini semacam pengulangan cobaan di hidup gw yang harusnya dapat dengan mudah gw lalui. *tsaelah*

Eniwei, ceritanya, tanggal 30 Juli kemaren tuh ada pengarahan skripsi di kampus. Meskipun males sampe ke ubun-ubun, gw kudu dateng. Ini demi masa depan, boy. Dan gw adalah penentu masa depan gw sendiri. *pake kacamata item*
Pengarahan diberikan oleh dua dosen, satu dosen Akuntansi, satu lagi dosen Manajemen. Terlihat perbedaan mencolok saat kedua dosen memberikan pengarahan. Yak! Suara Pembimbing Akademis gw kok kecil banget ya? Hampir tenggelam kena desis AC. Fuhhh.. Mana penjelasannya kurang jelas lagi. *sigh*
Apalagi waktu dia bilang, "Manajemen Bisnis itu seperti daerah tak bertuan". Alias kagak jelas mana aja topik yang bisa kami jadiin tema skripsi. *sigh lagi*
Tapi gak papa deh, tetep dengerin aja karena ini pentillll..! *sengaja typo*

Senin paginya, dengan semangat puasa pertama dan hembusan napas naga, gw berangkat ke kampus demi terselesaikannya proposal skripsi (propsi) tepat waktu. Gosipnya, si propsi ini kudu sampe ke sekretariat tanggal 19 Agustus, yang mana masih dua minggu lebih, jadi agak-agak tenang.

Sampe kampus, berbekal tekad bulat (dan badan yang juga bulat) *sigh lagi dan lagi*, gw sama Dita dan Lona nongkrong di perpus sampe jam 14.30. Alhamdulillah gak sia-sia, dapet juga beberapa judul yang gw rasa cucok dan agak-agaknya bisa diseleseiin alias ga mentok.

Hari ketiga puasa, temen-temen di BBM mulain ribut nanyain kapan propsi dikumpulin. Gw? Santei kayak di pantei aje, jeekk!!
"Masih dua minggu lagi.", kata gw dalem hati.
Tapi takdir berkata lain sodara-sodara! Pas ngecek SIAK-NG, tau-tau pengumpulan propsi paling lambat tanggal 12 Agustus. DHUAAARRR!! Panik lah gw dan temen-temen. Cemmana nih makcik! Jurnal belom dapet, judul masih galau mau yang mana, dan Pembimbing Akademis gw? Jangan tanya deh, ditelepon aja kagak mau jawab *hiks* Lebih tega dari (alm) Meggy Z dah pokoknya!

Nah sekarang gimana? Pembimbing Akademis susah ditemuin, kampus juga lagi libur yang berdampak pada TIDAK ADANYA DOSEN YANG MAEN KE KAMPUS, dan gw lagi dikejar-kejar waktu *gemeteran*
Ahhhh.. Cemmana? Huhuhu.. Gw panik, jek! Sedih juga. Tapi kayaknya kudu mikir dengan kepala dan hati yang adem. Gimana kalo nyari jurnal dulu sambil pelan-pelan disusun latar belakangnya? Gimana, Ki? Gimana? Brilian, kan! *padahal biasa aja* *nenangin diri sendiri*

Ga boleh patah semangat meskipun hati sedang hancur lebur, Ki! Kerjain pelan-pelan. Lo pasti bisa. Inget, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir yang abis putus cinta! *pake iket kepala*
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Desember tahun ini, usia gw bertambah satu tahun. Selain makin tua, pola pikir juga mulai mengalami pendewasaan. Yaa.. Let's say apa yang gw pikirin sekarang ini bukan lagi kapan bisa nonton film itu, handphone apa yang lagi nge-trend, ato sibuk hunting poster Justin Bieber buat dipajang di kamar just like few years a go. Tapi fokus pada apa yang udah dan yang harus gw lakuin supaya masa depan gw ga jadi abu-abu.

Minjem judul dari salah satu chicklit lokal (yang belum sempet gw baca), postingan kali ini gw kasih judul: Being Twenty-Something Is Hard. And it is hard, Baby! It is..

Kalo diinget-inget, dari jaman SMA sampe D3 dulu, gw ga pernah tuh bikin rencana dan target dalam hal apapun. Ga pernah. Bahkan waktu ditanya besok gw mau ngapain aja, gw pasti bingung. Kalimat "Kalo Segala Sesuatu Direncanain Pasti Ga Seru" selalu jadi tameng atas tindak-tanduk gw yang cenderung spontan. Ini ga berarti buruk, tapi TERNYATA alangkah baiknya kalo segala sesuatu itu disertai rencana dan target BIAR upaya kita bisa optimal dan hasilnya ga kejauhan dari target yang udah kita bikin.

Berapa banyak sih dari lo semua, para pembaca dan penggemar gw (hihihi), yang punya rencana jangka pendek, jangka menengah, ato jangka panjang?? Udah pada ngelakuin apa aja biar cita-cita lo kesampaian? Ato sesederhana, berapa banyak sih tabungan lo buat menunjang kehidupan masa depan lo?? Gw cuma bisa geleng terus mikir waktu pertanyaan-pertanyaan ini ga sengaja muncul di otak gw yang beratnya cuma 2 gram. Sedikit ngerasa tertampar karena gw emang belum punya persiapan apa-apa buat menghadapi masa depan. Even worse, umur segini sarjana juga belom. BIG SIGH!

Dua minggu lalu, seorang teman SMA menikah. Entah udah berapa puluh temen yang menikah. Ini juga jadi semacam tamparan keras buat gw. Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan "Kapan ya gw kawin?", "Di gedung mana ya resepsinya?", "Pake adat apa ya?" dan langsung lengser begitu kalimat sakti ini muncul: "PUNYA PENGHASILAN BERAPA YA GW BUAT MODAL KAWIN?". Dan sekali lagi, gw geleng. Sedih banget pas tau kalo gw ketinggalan banyak dari temen-temen yang lain. Sedih dan mikir.

Dari sinilah gw mulai memperbaiki hal-hal yang sifatnya penting yang berkaitan dengan masa depan. Dan, sangat mengejutkan, ternyata semua hal itu penting!! Mulai dari gaya hidup lo, pola pikir, tujuan hidup, bahkan penghargaan atas usaha yang udah lo lakuin juga penting. Menghargai diri sendiri atas usaha yang udah lo buat itu penting! Penting sebagai acuan, penting sebagai motivator!!

Orang boleh bilang, being twenty-something is hard. But it's not that hard if you got all your plans and do your best for your future. Masa depan kita, kita yang nentuin. Mulailah dari hal-hal kecil yang sering kali kita sepelein. Semangat, bung! Masa depan cerah cuma ada buat anak muda yang punya semangat, mau berjuang, dan terus berdoa. Semoga kita salah satunya. Amien..
Labels: 4 comments | edit post
Rizqi Amalia
Haaaaii.. Hallooooo..
Apa kabar, kawan?? Semoga sehat sejahtera yaaaa..

Eniweeeiii.. Akhir-akhir ini, karena jarang banget update blog, gw sempet diteror penggemar setia. Yaaa.. Siapa lagi kalo bukan Srintil. Iya, dia memang penggemar setia meskipun lubuk sanubarinya belom tergerak buat ikutan jadi follower seperti teman gw yang lain *berasa artis*

Okeee.. Postingan kali ini akan menghadirkan beberapa potret kehidupan yang terjadi pada gw selama ga update blog,, Cekidooooott, meeennn!!


Potret #1
Malam hari, ketika bingung mau bikin apa buat makalah matakuliah Organizational Behavior, gw teringat Elang, stalker gw jaman SMA. Maka terjadilah perbincangan hangat via Yahoo Messenger.

Teteh Rombeng: Elaaaaangggg!!!
Teteh Rombeng: Sibuukk gaa? Mau tanya-tanya buat tugas niihh!!
Teteh Rombeng: Kalo ga lagi sibukk, buzz me yaaaa..
(Heninggg.. Bosan menunggu, akhirnya memutuskan untuk kayang, lalu..)
Elang: Buzz *bukan dari tools buzz'nya ya, tapi diketik*
(bingung setengah mati)
*Ini maksud si Elang apa cobaaa.. Hmmm.. Pasti ngelawak nih yaa. PASTI!*
Beberapa detik kemudian..
Elang: Ga tau cara buzz dari BB, Ki..
Teteh Rombeng: *tepok jidat!*


Potret #2
Kalo lo ngaku anak gaul, pasti lo punya akun Twitter dongg (follow me @qkieqkie ya! hihihi). Iya, setan Twitter ini seperti enggan beranjak dari hidup gw sejak beberapa bulan yang lalu. Dan di antara puluhan akun yang gw follow, tersebutlah @AlasanBuatPutus. Akun ini berisi berbagai macam alasan buat mutusin pacar lo dari yang masuk akal, sampe sampah-sampahnya, salah satunya:

@AlasanBuatPutus: aku ga bisa bedain belahan pantat sama belahan dadamu!! (via @bayusaja)

Dan seketika itu pula gw dibuat ngejengkang karena tweet ini. Setelah gw ReTweet, ga lama si empunya tweet, alis @bayusaja, mention gw, minta diberi kesan dan pesan *menurut gw ini juga sampah, hahhahaha*
Namun, karena jiwa kepemimpinan gw tinggi *iya, emang ga ada hubungannya*, gw mention baliklah si @bayusaja.

@qkieqkie: @bayusaja perbaiki diri,, dan selalu ingat, surga itu di bawah telapak kaki ibu, bukan di keteknya!!


Potret #3
Kali ini soal ngeles. Yayaya.. Kalo cerita soal ngeles, emang ga ada habisnya *padahal yang dilesin cuma sebiji*
Seperti hari ini contohnya. Dari jam 12 gw udah sibuk membenahi diri. Mulai dari mandi, keringin rambut, pilih-pilih baju, pilih jilbab, dan tentu saja tas. Pokoknya gw kinclong bener dan siap ngajar.

Dan ketika gw hendak melangkahkan kaki keluar rumah, sebiji SMS masuk.
1 New Message(s) - open - dan, jengjengjeng...!!!

From: AZ
"Teh, besok aja lesnya, sekarang lagi bete"

*jedotin kepala ke tembok*


Potret #4
Terminal Depok, angkot D11
Pukul 17.13

Gw duduk dengan jenaka sambil merhatiin seorang ibu yang ribet ngegendong anak laki-laki serta menuntun anak perempuannya. Ini ibu naik angkot D11 yang gw tumpangi dan duduk tepat di hadapan gw. Tak lama, terjadilah perbincangan intern keluarga.

Ibu: Ini, Nak. Ini, ini..
*ngasongin kantong kresek item ke anak perempuannya*
Anak: ....
*tidak menjawab dan terlihat ogah memegang kantong kresek misterius itu*
Ibu: Ini ada kwetiaw. Dimakan, Nak. Dimakan..

Wahhh kwetiaw, men! Bakalan ribet banget ya di makan di angkot. Kan ada kuahnya,,

Ga lama si Ibu ngeluarin isi kantong kresek item misterius itu. Dan lo tau apa yang si Ibu keluarinn?? Lo tau men?? Yak!! CAKWE!!


Potret #5
Sore hari, di Rumah Tante.

Tante gw adalah wanita karir, jam 3 sore tentu saja belio belum pulang. Jadi, di rumah tante hanya ada gw, anak perempuannya, kelas 1 SMP, dan adiknya yang masih kelas 2 SD, Empang. Tapiiii,, berhubung jam 5 nanti gw ada asistensi kuliah, makanya gw bergegas pulang.

Empang: Teh Kiki mau ke mana?
Gw: Mau pulang nih. Udah sore. Teh Kiki ada kuliah.
Empang: Yah, jangan pulang dulu dong..
Gw: Emang kenapa?
Empang: Aku mau ee nih.. Nanti yang cebokin siapa kalo Teh Kiki pulang..
Gw: ..... *kayang*


Labels: 5 comments | edit post
Rizqi Amalia

Siang ini gw diselimuti perasaan kecewa mendalam. Iya, gw patah hati, men! Ga tau gimana ngejelasinnya sama lo semua, yang jelas hati gw hancur berkeping-keping.

Semua bermula ketika gw kelas 5 SD. Buat yang belum tau, gw sekolah di SDN Pabuaran VII yang terletak di jantung Kota Cibinong. Yak! Cibinong ini nama kota, men! KOTA!! Dan perlu lo semua tau, SD gw ini keren abis karena punya stasiun kereta sendiri *mungkin tahun depan, bakal punya landasan helikopter sendiri*

Eniweii, dari postingan yang lalu, cukup terlihat jelas sedahsyat apa kekaguman gw akan sosok Ricky Martin. Poster banyak, kaset ada, dan kalo lo minta gw joget ala Ricky Martin dalam Video Klip Maria, gw akan senang hati melakukannya.

Dulu gw sempet berasumsi kalo Ricky Martin adalah jodoh gw. Ya gimana ga jodoh, nama aja udah mirip, Ricky-Rizqi. Nama kecil sama, Kiki. Tanggal lahir si Ricky 24 Desember, gw 23 Desember. Dan dari segi body, ya cocok abis! Lo tau kan body si Ricky gimana? Seksi ngegemesin gitu kan,, nah body gw? Seksi menohokk! Makanya, atas dasar kemiripan itulah, gw meyakini sepenuh hati kalo Ricky adalah jodoh gw.

Sampei umur gw yang sekarang, gw tetep meyakini dalam hati kalo Ricky adalah jodoh gw. Hati gw selalu berbunga-bunga tiap kali Ricky menatap gw dalam-dalam di Google. Tiap ada waktu, gw pasti luluran. Tiap kali ngerasa ga oke, gw pasti ke salon. Ya bukan apa-apa, gw cuma make sure kalo diri gw siap pada saatnya si Ricky meminang gw.


Namun harapan tinggallah harapan. Impian gw hancur berkeping-keping siang ini, 30 Maret 2010, ketika tau Ricky Martin adalah seorang gay! Oh NOOO..!! *cakar-cakar tembok*

Hancur sudah harapan tinggal di rumah mewah di Puerto Rico, hilang sudah impian makan kari bikinan Ricky, dan gagal sudah rencana ngajarin jaipong ke Ricky. I'm broke, man! My world is crashing down.. Sigh!

Gw duduk dipojokan kamar sambil mungutin kepingan asa gw. Seandainya Ricky tau gimana perasaan gw.. Seandainya Ricky tau sebesar apa pengorbanan gw selama ini.. Seandainya Ricky tau kecantikan dan kemolekan tubuh gw sedari dulu, pasti dia ga akan pernah kepikiran buat jadi gay! PASTII..! *salto*


Patah hati, oh begini rasanya..


Silahkan klik di sini untuk informasinya:
Ricky Martin Bangga Jadi Gay
Labels: 6 comments | edit post
Rizqi Amalia

Beberapa hari yang lalu, gw dengan sukarela ngeberesin tumpukan kardus berisi buku-buku jaman dulu yang nongkrong udah bertahun-tahun di kamar. I need more space. Bukan, bukan karena badan gw tambah lebar (padahal emang bener), tapi buat barang-barang jualan gw (please visit: Luledielli). Satu per satu itu kardus gw bukain isinya. Kardus pertama dan kedua, sesuai label yang tertera, berisi buku-buku pelajaran yang masih keliatan baru karena emang ga pernah gw baca. Terbongkar sudah dari mana kebodohan ini berasal, bukan? Dan setelah kardus kedua dengan ciamik gw rapikan kembali, tibalah pada kardus ketiga yang gw beri label: BARANG HARAM. Berhubung ini kardus udah numpuk bertahun-tahun di kamar, gw mulai pikun deh apaan aja isinya. Bisa jadi ekstasi, bisa juga miras, atau mungkin kolor tetangga.

"Kreeeekk", suara pelepasan lakban dari kardus.
Gw buka pelan-pelan kardus nomor tiga. Dan..

Jeng jeng jeng!!

Inilah daftar BARANG HARAM yang gw temukan:
  1. Sebuah topi ijo manis yang udah ga muat lagi.
  2. Buku gambar nista yang isi gambarnya gunung dua biji, di tengah-tengah ada matahari yang ceritanya mau terbit, pematang sawah dengan kombinasi warna ijo-kuning, rumah dari bilik, dan pohon kelapa yang lebih mirip kayak pohon toge. Dan, tentu saja, burung-burung beterbangan!!
  3. Kaset (bukan CD) Kris Dayanti dengan judul album SAYANG. Kalo lo lupa, cover album ini gambar KD duduk bersimpuh di kebon gitu, pake hiasan daun-daun di kepalanya. Dan mau tau lagu yang paling gw suka dari album ini? Yak! Menghitung Hari!!
  4. Koleksi isi binder dengan berbagai gambar tokoh kartun seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dan Winnie The Pooh yang dengan sukarela gw berikan ke adek sepupu.
  5. Beberapa hasil kerajinan tangan waktu SD dan SMP.
  6. Poster Adam Jordan, Andy Lau, dan Ricky Martin.
  7. Dan yang terakhir adalah, DIARY kesayangan.
Dan ya, barang paling jadah dari segala barang adalah DIARY. Warna covernya pink dengan motif garis-garis dan ada gambar karikatur di pojok kirinya, lembaran isinya terbagi atas tiga warna: ijo, biru, dan pink, dan tentu saja, bau khas sebuah diary. Yes, I know, cute abis, kan?

Lembar pertama, seperti diary-diary lainnya, berisi data diri yang punya, alias gw. Inilah data yang ditulis seorang gadis polos kelas 5 SD:


BIODATA

Nama: Rizqi Amalia

Nama Panggilan: Kiki
Kelas: V-B paling OK!

TTL: Bogor, 23 Desember
Agama: Islam 1000% dong!

*what the..*
Alamat: depan rumahnya Lisa
*kebayang ga ribetnya temen gw nyariin alamat rumah gw??*
Pacar: R-A-H-A-S-I-A
*astaga!!*
Warna Favorit: biru, hitam, merah
*that's my color*
Makanan Favorit: Apa aja yang penting enak
*yeah, no wonder*
Minuman Favorit: Sprite, Fanta, CocaCola
*waktu gw SD, ada mitos yang mengatakan barang siapa yang udah pernah minum ketiga minuman bersoda ini, bakal dianggep keren abis*
Artis Favorit: Andy Lau, Jimmy Lin, Jeremy Thomas, Ari Wibowo, dll
*ya Tuhan*
Penyanyi Favorit: Ricky Martin, Celine Dion, MLTR, U2
*heyy.. I've better taste on this! Hooorayy!! Iya, kecuali Ricky Martin*
Kata Mutiara: Raihlah Cita-Citamu Setinggi Langit
*bagian ini sarat akan nilai luhur*
Pesan-Pesan: Jangan sombong-sombong ya nanti. Sering main ke rumah gua. Inget gua terus yaa, prenn!!
*oke, mulai nista lagi*
Pantun: Kalo ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalo ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi
*ini apaaaaa???!!"


Love, Piss, 'N Gaol
Kiki Yang Keren Banget


-the end-





Gw kah itu??
Gw kaaahh??

TIDAAAAKKK!!



*sayang sekali itu buku diary udah gw buang (bersama beberapa barang lain) saking nistanya, dan belum sempat gw foto sebagai bukti. yang ada tinggal topi dan kaset Kris Dayanti*
Labels: 10 comments | edit post
Rizqi Amalia
Siang ini, dihadapan saya duduk seorang wanita cantik dan modis. Rambutnya yang bergelombang dibiarkan terurai anggun. Kakinya ditumpang pada kaki lain sambil menghisap sebatang A Mild Menthol dalam-dalam.

"Rokok?", katanya membuka perbincangan kami. Saya tersenyum sambil menolak halus. Wanita membalas senyum, memesankan Lemon Squash kesukaan saya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Saya perhatikannya gerak geriknya. Lalu dia memandang saya, lagi. Kali ini tanpa senyuman.

Ahh.. Pasti ada yang mengganggu pikirannya. Tiap kali mata kami beradu, pandangannya seperti "melarikan diri" dari saya. Keresahannya tersirat. Ada sesuatu yang telah lama dipendam dan entah pada siapa harus diluapkan, mungkin. Wanita sesekali melirik ke arah saya sambil mengganti topangan kakinya.

"Umur gw 37 tahun ini. Lo tau?", katanya lagi karena saya hanya menatapnya sedaritadi. Saya mengangguk pelan, masih terus menatapnya.

"Gw pengen kawin..", kali ini tatapannya tajam pada saya. Saya tersenyum.
"Seriously, I want to get married, Ki.. Soon. "
Saya diam. Wanita masih menatap saya. "Are you dating someone?", alis saya naik.
Wanita menggeleng. Saya membuang nafas pendek.

Saya mengenal wanita hampir tujuh tahun lalu. Ya, umur kami memang berbeda jauh, tapi toh nyatanya umur cuma deretan angka yang ditandai guratan sekitar mata, tidak lebih. Kesamaan pemikiranlah yang mampu menghapus perbedaan belasan tahun itu. Biar saya gambarkan seperti apa dia. Tinggi, cantik, pintar, mandiri, dan pekerja keras. Wajahnya tidak kalah dengan model-model yang sering muncul di tv atau majalah fashion.


"Ada yang lagi deketin gw", kata wanita menggebu-gebu beberapa tahun lalu.
"Terus?", saya menganggapi.
"Hmm.. Lewat sajalah, mukanya ga banget..", jawabnya.
"Tapi baik?", tanya saya.
"Semua orang baik, kayaknya"
"Oya?"
Dipandangnya saya lekat-lekat, "Iya"

Saya mengangguk. Mungkin benar yang dikatakannya, bahwa pada dasarnya semua orang itu baik, tapi sayang, ga semua juga tampan. Yah.. Wanita memang punya standardisasi sendiri harus seperti apa pria yang bisa mendampinginya. Saya rasa setiap kita punya standardisasi juga. Ada yang mengharuskan pasangannya begini, begitu. Beragam, dan itu sah saja.
Ahh.. Saya tidak mau ambil pusing. Juga tidak banyak berpendapat tiap kali wanita membahas hal ini. Dalam banyak hal, kami mungkin memiliki kesamaan, tapi tidak untuk ini. Buat saya, lebih penting menetapkan standardisasi hati daripada diri.


"Ki..", sapanya menyadarkan saya dari lamunan.
"Ya?", kata saya.
"Salah kalau gw pengen pendamping dengan wajah tampan, menawan?"
"Enggak", jawab saya.
"Oke", katanya pelan.

Saya menatap matanya. Tersenyum dengan manis dan dibalasnya masam.

"Mba.."
"Ya?"
Saya seruput Lemon Squash pesanan saya, "Cuma bonus Tuhan"
Matanya terheran menatap mata saya. Saya pamit pulang.


Italic
To: Wanita
Subject: Bonus Tuhan

Dear Wanita,
Obrolan hari ini menarik. Karena untuk kesekian kalinya kita membahas hal yang sebetulnya cuma bergantung sama keputusan kamu. Aku ga ngerti harus menanggapi dengan cara yang bagaimana. Tapi.. ini sedikit pemikiran aku soal hidup.

Sesuatu yang menarik itu biasanya datang dari mata, kan? Ketika mata dibutakan penampilan, buruknya, sesuatu yang lebih menarik di dalam tak lagi nampak. Ini bukan soal kamu, ini soal cara berpikir, menurut aku. Hmmm.. Kamu pernah ga berpikir kalo ganteng itu cuma bonus dari Tuhan?

Kita kan sebetulnya membutuhkan seseorang yang bisa mengerti, menyayangi, menerima. Dan itu dari dalam, tidak tercermin dari ketampanan.

Kamu sudah dewasa, aku rasa sudah ga pada waktunya lagi ngeliat seseorang dari bentuk luar layaknya abg. Kamu butuh "imam", orang yang bisa membimbing kamu, bukan si tampan yang dengan bangga dipamerkan pada teman. Ini soal hidup kamu, bukan lagi soal ambisi dan arogansi.

Maaf atas kesoktahuanku. Aku hanya melihat dari sudut pandang yang tidak biasa dengan sudut pandangmu. Keluar sedikit dari konsepsi ideal demi mencari ketenangan. Semoga bisa sedikit membantu.

Si-Tidak-Tahu-Apa-apa



Terinspirasi seorang teman, 11.48
Hari Ini.
Labels: 2 comments | edit post
Rizqi Amalia

Haloooooo para penggemar! Gw sedang bersemangat menulis sesuatu tentang diri gw nih. Hmmm,, ga cuma nulis, tapi melakukan sesuatu! Yap! Setelah bulan Januari berakhir tanpa arti, gw mulai Februari dengan hati-hati *keren ya rimanya? Blaaahh..

Ini hari pertama Februari. Hal menarik pertama yang gw lakukan adalah: bangun pagi. Efek bagusnya, gw ngerasa bisa ngelakuin banyak hal karena ga bakal cepet-cepet ketemu sore terus malem. Buruknya, mata gw berair dan mulut ga berenti nguap. Hehehe.. Ini adalah resolusi pertama di 2010 dan baru terlaksana di bulan kedua. Hahahaha.. Ya udahlah, resolusi tinggallah resolusi, sekarang yang gw pikirin, gimana caranya menjadi lebih baeeekk dari sebelumnya!! *preeeett

Februari ini gw mulai sibuk. Dan gw suka menjadi sibuk daripada ga ngapa-ngapain. Kebayang ga sih lo berminggu-minggu yang lalu kerjaan gw cuma makan, pacaran, tidur, makan, pacaran, tidur. Gitu terus sampe hampir mati bosen. Dan gw bangun dengan sumringah karena ini Februariiiii!!! Februari, mennnnn!!! *lebay


Gw yakin banget Februari ga bakal sengebosenin Januari. Selain karena kegiatan perkuliahan udah dimulai (yang berarti bisa ngecengin junior, hihihihi..), gw juga punya proyek iseng-iseng yang lain. Mau tau kan lo?? Mau kan? Mau kan? *mata genit. Okeee.. Berikut ringkasannya:



1. Rajin Bangun Pagi
Ini hal paling penting dibanding proyek lain di bulan ini. Ga boleh ga kelaksana!! Karena gw ngerasa banyak hal yang bisa dilakuin di pagi hari, kayak nulis. Suasana yang sunyi, senyap, sepi, sendiri, bikin otak gw ga mapet dalam menuangkan ide brilian. Hahhaha.. Lagian nyokap juga udah males ngebangunin gw lagi. Heheh.. Jadi yaa mesti bergantung sama diri sendiri. Siapa lagi yang bisa diandeliiinn, meeennn??? *blaaahh.. Kenapa jadi man-men-man-men mulu daritadi. Hahaha..


2. Jualan
Yayaya.. Gw lagi berusaha serius menjalankan suatu bisnis kecil-kecilan dengan modal yang pas-pasan. Heheheh.. Kapan-kapan boleh juga nih blog jadi media promosi gw. Hihihi..
Gw banyak keinginan, ini salah satu cara gw wujudin keinginan gw yang seabrekk! So far, not so good, karena baru tahap awal. Tapi gw lagi cari cara biar jadi tambah bagus lagi. Gw ngerasa pinter, makanya gw yakin bakal nemu solusinya *sombong. Hahahah..
Intinya sih, gw kudu mensugesti diri gw sendiri kalo gw mampu ngelakuin banyak hal dengan optimal. Hey, you should do this to yourself too. Saya bisa, saya bisa *sambil gegayaan kayak Deddy Corbuzier.


3. Ngajar
Dulu tiap kali nyokap meracuni otak gw buat jadi guru, gw selihai mungkin menolak. Gw pengen jadi sesuatu yang lain di keluarga gw, keluarga nyokap lebih tepatnya. Bisa lo bayangin ga, dari tujuh orang anak kakek-nenek gw, berapa orangkah yang memutuskan untuk menjadi guru? SEMUANYA!! Hahahahha.. Gw ngerasa butuh profesi yang lain. Bukan gw nganggep rendah profesi guru, tapi gw pengen beda aja. Dan ujung-ujungnya sekarang gw ngajar privat bocah SMP deket rumah. Hahhahha.. Mungkin ini takdir Tuhan, bahwa gw emang kudu ngelakuin yang namanya transfer ilmu, meskipun ga dengan sebutan guru. Hehehe..


Sejauh ini sih segitu dulu aja. Itu juga udah banyak kayaknya *ketauan banget ga pernah ngelakuin apa-apa. Hahhaha..

Hal paling penting yang mau gw sampein di sini adalahhh..


Jeng jeng jeng jeng!! *backsound


Masih banyak kok hal berguna yang bisa kita, ato dalam hal ini gw lakuin. Dan berbahagialah karena berguna, at least buat diri sendiri. Dan setelah ngerasa useless dan ga bisa bikin bangga orang-orang di sekitar gw, akhirnya gw sadar masih banyak cara buat jadi besaaarr!! Soooo,, semangat guys!!!!

Labels: 2 comments | edit post
Rizqi Amalia
Hari ini gw namai hari renungan bersama. Kenapa? Karena beberapa orang mendatangi gw dengan tujuan yang sama, curhat. Oiya, keluhannya juga ga jauh beda, yang intinya menyesali keadaan diri sendiri. Terus kenapa banyak yang curhat malah jadi renungan? Baca postingan ini sampei tuntas! Hehehe..

Potret 1
"Ki, gw heran deh kenapa gw dilahirkan dengan badan kurus begini. Mau gendut, sekeras apapun usaha, hasilnya nihil. Pengen deh kayak lo", katanya dengan raut muka mirip cucian belom disetrika, lecek!

Gw senyum menanggapi kata-katanya. "Alhamdulillah lo. Gw aja pengen kurus", kata gw.
"Iya, tapi.. blablabla", jawabnya.


Potret 2
"Kikiiiiiiii..!!", kata seorang temen, setengah berteriak.
"Yes darling", jawab gw sok kebarat-baratan.
"Gw udah putihan belom?", tanyanya sambil sibuk memperlihatkan lengan.
"Hmmm.. Ga tau deh. Gw kan buta warna. Hahahah..", jawab gw.
"Ah elooo.. Gw abis suntik vitamin C nih", lanjutnya.


Potret 3
"Ndut, sebel banget deh ga bisa tinggi. Padahal kan lo tau gw gendut. Ahh.. Sebel bangeeeeett!!", kali ini nona ceroboh yang mengeluh.
"Lah? Kok gitu? Bukannya enak bisa pinjem baju sama adek lo?", jawab gw.
"Iya, tapi kan gw pengennya ga segendut ini", jawabnya.
"Hmmm.."
"Gw mau sedot lemak, Ndut."
"Eh??"



Gw diem, terus mikir. Perempuan buat gw, apapun bentuk dan warnanya, tetep aja cantik. Setuju ga sih lo? Ciptaan Tuhan itu pasti indah, bukan cuma pelangi. Terus kenapa harus ngeluh?

Gw ga akan munafik di sini. Gw pengen kok punya badan yang bagus kayak Luna Maya. Tapi efeknya?? Luna Maya bakalan ga laku kalo gw selangsing dia. Gw juga pengen putih kayak cewek-cewek Jepang. Tapi ujung-ujungnya?? Tawaran iklan meningkat yang berarti waktu gw buat belajar bakal berkurang. Ah, susah deh jadi artis kayak gw. Sumpah!

Terus sekarang gimana? Ya syukuri aja apa yang lo punya.
Kalo lo mau gendut kayak gw, gw bersedia kasih trasferan lemak gratis kok. Suer!
Atau kalo lo mau kurus, ya pelan-pelan aja kurangin makan dan olahraga. Diet bukan karena pengen kurus, tapi sehat itu perlu.
Kalo mau putih, ga usah suntik vitamin C. Bahaya. Bener deh. Sering-sering aja luluran biar dakinya pada rontok.

Kalimat kedua dan ketiga juga berlaku buat gw kok. Syukuri, rawat, dan sayangi diri lo. Ga usah ngeluh, karena siapa tau ada yang naksir parah dengan keadaan yang kata lo "menyedihkan".

Happy being you laaahh..

Lo itu cantik kok! Suer!! :)
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Saya tersesat.


Semua berawal ketika saya kehilangan idealisme beberapa tahun silam. Saya terpesona ego lalu menenggelamkan diri sekian lama tanpa berniat bangun. Saya ogah berkutat dengan tanggung jawab. Saya ini pengecut makanya takut. Ngumpet. Ngeri saya berhadapan dengan dunia.

Dia, yang saya sebut idealisme tersapu badai yang saya bikin sendiri. Ribuan kali. Tapi ya sudah, ciptakan yang lain saja. Ga mau ambil pusing. Untuk apa? Toh hidup saya. Pemikiran saya. Masa depan saya. Egoisme saya. Cuma saya.

Tapi semua berubah ketika hidup secara tidak sengaja membawa saya pada level dewasa. Tingkatan di mana tidak hanya saya, tapi ada yang lain. Keadaan di mana saya tidak boleh tidak mikirin masa depan. Saya sejauh apapun berlari, tanggung jawap tetap menghampiri. Dia terus mengikuti. Dan saya memutuskan keluar dari suaka ego.

Saya terseok. Sekian lama ngumpet ternyata bikin otak saya ngadat. Penyegaran? Nanti sajalah. Saya punya banyak waktu untuk itu. Sekarang waktunya mengumpulkan setiap detil yang hilang dari hidup. Mengembalikan lagi idealisme. Menyusun lagi masa depan. Saya bahagia bertanggung jawab. Saya kembali normal karena punya sesuatu untuk dijalani. Idealisme saya!

Semua berjalan baik sejak beberapa bulan lalu. Rencana-rencana tersusun rapi. Saya lebih bersemangat dan tau diri untuk bersyukur pada-Nya lebih rajin lagi. Dan ya, Dia sayang saya, makanya semua kembali baik. Normal. Sayang tidak terkendali. Ego bikin ini kacaw lagi.

Bayang-bayang ke luar negeri ada di depan mata. Kuliah di tempat impian sudah saya dapatkan. Dan penerimaan diri yang tak terduga datang dari keluarganya. Saya bimbang lagi. Saya lupa di mana saya menempatkan prioritas. Saya larut dalam keinginan-keinginan sampai ga tau lagi tujuannya apa. Sekuat hati menahan biar sang idealisme tidak tumbang tapi apa daya, saya tersesat dalam ego.

Saya tersesat.
Dan waktu tanpa ampun memburu.
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Suraaaammm!!
Kata pertama yang mewakili idealisme gw. Bukan karena gw penganut aliran setan (jadi gelap-gelap suram), tapi karena gw udah ga tau lagi di mana sang idealisme berada.

Di mulai saat gw menderita kemalasan akut yang bikin idup gw ga punya makna dan tujuan. Bukan setahun yang lalu saat gw bersetubuh dengan TA, tapi beberapa tahun sebelumnya saat gw resmi pake rok abu-abu dan sepatu Converse baru.

Dari kecil hobby gw adalah ngumpulin piala buat dipajang di rumah. Predikat juara kelas sampe murid teladan sukses gw sandang dengan jenaka. Gw suka belajar dan ga pernah ngerasa bosen. Nilai UAN pas SMP juga cukup membanggakan sampe akhirnya mampu mengantarkan gw ke SMA Negeri 1 Bogor, pintu masuk gw menuju Fakultas Kedokteran UI.

Emang bener, dari kecil, selain jadi atlet karate, cita-cita mulia gw adalah menjadi seorang dokter teladan yang ngobatin banyak orang dan berguna buat masyarakat banyak. Gw suka nolong orang dan pengen banget bikin orang sembuh dari sakit. Waktu SD gw malah suka ngayal sambil senyum najis terus bilang, "Bapak ga usah bayar. Yang penting cepet sembuh. Ini obatnya diminum 3 kali sehari..". Yang ternyata emang cuma jadi khayalan.

Gw mulai terserang lazynisme (paham kemalasan) akut yang susah ilang sejak SMA. Ga pernah belajar, main terus, males les, ulangan nyontek, PR nyontek, dan lebih sering nongkrong di selot sambil makan pempek lenggang dan teh botol dingin daripada merhatiin guru. Gw keilangan idealisme gw. Nilai Fisika, Kimia, dan Matematika yang notabene adalah potongan tiket buat menjadi seorang dokter hancur lebur meskipun gw masih bisa masuk IPA dengan terpaksa.

Lulus SMA dengan nilai UAN yang lumayan, gw bertekad bulat lulus SPMB Psikologi UI yang ternyata gatot alias gagal total. Tes sana sini dan tetep ga lulus, akhirnya dengan sedikit depresi gw masuk APP, kampus yang gw denger namanya pertama kali pada tahun yang sama ketika gw resmi jadi salah satu penghuninya. Ya! Akademi Pimpinan Perusahaan yang punya aturan berbelit dan kental birokrasi, APP.

Kuliah di APP ga langsung bikin gw betah. Otak gw masih pada khayalan jaket kuning yang sering kebawa sampe mimpi. Gw ikutan intensif SPMB sekalian kuliah yang berarti gw kudu bolak balik Jakarta-Bogor-Cibinong setiap hari. Rela naek kreta dan berdiri tiap kali naik bus plus keinjek-injek orang yang ga perhatiin sepatu Converse yang baru gw cuci. Sepatu kesayangan sekaligus cerminan idealisme gw. Gw harus jadi advokat!

Ga ada yang sia-sia. Kalimat sakti itu emang bener. Hasil bolak balik Jakarta-Bogor-Cibinong dan kurang tidur adalah lulus SPMB. Yippie!! Dapet Jurusan Hukum yang sayang sekali ga gw ambil karena cita-cita jadi advokat kesalip mimpi keluar masuk gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kemeja, rok selutut, dan sepatu hak 3 cm sambil merhatiin harga saham yang naik turun. Iya, gw menemukan idealisme baru gw: jadi pialang saham!

Untuk idealisme yang satu ini, agaknya gw mulai melakukan langkah awal yang lumayan mendukung ke arah situ. Magang di sekuritas, ngebahas tetek bengek bursa sebagei bahan TA, dan mengenal baik tempat jajan sekitar gedung BEI. Gw ga boleh keilangan idealisme lagi. Biarlah yang kemaren usang barengan sepatu Converse butut gw, tapi kali ini ga boleh lagi!

Gw masih mimpi. Gw masih pada mimpi-mimpi gw pake jaket kuning, kerja di BEI, keliling Eropa. Masih mimpi sementara temen-temen gw udah menjalani kehidupan nyata. Adin sukses ngeluarin buku, Kresna punya usaha sendiri, bahkan Afie juga barusan lulus sidang. Terus gw?? Pasti ada waktunya buat gw. Pasti!

Gw harus jadi sesuatu. Apapun itu yang jelas mesti berguna dan ngebanggain Pajen Bujen atau paling ga bisa bikin gw bangga pada diri gw sendiri. Gw punya mimpi, modal utama gw menghadapi dunia nyata. Semangat! Harus jadi perempuan hebat!!!
Labels: 2 comments | edit post