Showing posts with label rasa. Show all posts
Showing posts with label rasa. Show all posts
Rizqi Amalia
Pak, saya mau curhat.

Hari ini saya ke kampus pagi-pagi sekali. Semangat saya sedang tinggi. Efek dari perbincangan kita kemarin malam, mungkin. Di otak saya tercermin idealisme yang dulu sempet kabur digeser ego. Saya mau maju!

Saya bergegas karena waktu begitu kejamnya memburu. Bicara dengan dosen ini, dosen itu. Bolak balik ke laboratorium, ruang dosen, akademi. Nunggu berjam-jam. Dan hasilnya?? N I H I L.

Saya tertunduk 2 jam di pojokan lobby akademi tadi sore. Menunggu seseorang bernama Pak Wimbo yang nyatanya ga pernah datang. Saya bingung, cemas, takut, kecewa, geregetan, egois, marah tapi berusaha mengerti. Saya baru sadar mungkin kayak gitu rasanya jadi permen NanoNano. Ah, ga tau lah, Pak. Saya campur aduk!

Air mata saya sempet jatuh satu ato dua kali. Dan saya buru-buru ambil tisu biar ga ada yang tau. Saya malu. Sebesar ini tapi punya nyali sepitik. Punya mental tahu dan ga pernah bisa setegar karang, bahkan untuk sekedar pura-pura.

Saya ingat Bapak. Berkali-kali mengirim pesan singkat yang akhirnya saya sadari cuma mempertegas kelemahan saya di depan Bapak. Tapi mau bagaimana, saya butuh sandaran. Saya butuh penyemangat. Dan saya bisa dapat dari Bapak.

Orang tua? Nanti sajalah. Mereka cukup pusing menghadapi kenakalan saya. Apalagi sepulang dari sini, saya ga mampu memberi kabar yang mengukir senyuman. Saya payah!

Kenapa ya, Pak??
Kenapa coba??

Saya mencari-cari jawaban. Tapi ga ketemu tuh. Terus saya mikir, mungkin ini karena Allah sayang saya. Makanya saya dikasih susah dulu. Biar saya tau diri, biar saya tau waktu. Ahh.. Pasti begitu. Akhirnya saya putuskan pulang.

"Gimana, Teh? Dapet ijazahnya?"

Ini yang ditanyakan orang tua pertama kali setelah menjawab salam.

Saya menatap mereka, lalu menggeleng.

"Kenapa?", tanya mereka lagi. Lalu saya jelaskan dengan air mata.

Ahh.. Manja sekali saya sampai Papa terpaksa turun tangan. Beliau menghubungi Pak Wimbo. Dan saya? Saya sibuk menyeka air mata.

Saya makin malu. Ini kan akibat kenakalan saya yang kemaren ya? Kok semua orang jadi sibuk? Dosen ini, dosen itu, orang tua, Bapak. Ckckck.. Saya sungguh tidak bertanggung jawab rupanya. Cuma bisa bikit repot! Ngerepotin!!

Dengan perasaan yang masih kacau, saya menuju kamar lalu mengunci pintu. Memeluk guling sambil terisak. Saya nangis lagi. Lebih seru dari sebelumnya dan saya tidak berusaha mencegah air mata untuk mengalir. Saya menangis sejadi-jadinya.

Hal-hal buruk mulai terbayang di benak. Air mata makin deras mengalir. Dan saya mematung. Bisu. Saya membias dalam sepi.
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Saya duduk lagi. Kali ini benar-benar terdiam di lobby Akademi Pimpinan Perusahaan (APP). Nunggu Surat Tanda Kelulusan (STL) saya keluar.

Biar saya jelaskan gimana keadaannya. Hari Rabu saya sidang dan dijanjikan oleh Pak Hasnin selaku Pudir I kalau STL saya bakal keluar 1-2 hari setelah saya sidang.

Hari ini, H +2 sidang dan STL saya belum keluar. Ya, memang pihak UI kasih saya waktu sampai tanggal 21 untuk melengkapi beberapa berkas seperti STL dan transkip nilai sementara. Tapi besok Hari Sabtu yang artinya akademi tutup. Lalu Minggu, dan Hari Senin kebetulan tanggal merah. Saya resah. Karena berarti Hari Selasa, 21 Juli 2009 adalah tengat waktunya.

Ahh.. Apa iya karena pihak akademi yang ogah-ogahan mengeluarkan STL, saya jadi ga bisa masuk UI? Pak Wimbo bilang begini, Pak Didin bilang begitu. Misuh-misuh dan bosan dengan pertanyaan saya. Gosh! Saya mengelus dada. Sekarang si pembangkang dan idealisme udah bersatu. Kenapa yang lain ga ngedukung?? Sigh..

"Sabar, Ki!", kata saya dalam hati. Menenangkan diri sendiri meskipun raut wajah kecewa Mama langsung terbayang.

Setahun kemarin saya memang malas bersentuhan dengan tanggung jawab. Gatal rasanya, macam alergi. Tapi pelan-pelan saya nemu penawarnya. Ajaib. Saya sembuh dan suka dengan tanggung jawab.

Dan sekarang, keadaan seperti menggambarkan sebuah kalimat bijak, bahwa hidup kadang tidak seperti yang kita mau. Kalau kita mungkin saja tidak mendapatkan yang kita mau sekeras apapun usaha. Saya menarik nafas panjang. Berat. Saya belum siap kecewa di hari pertama saya berkasih dengan tanggung jawab.

Di samping saya duduk seorang kawan lama sejak 10 menit lalu. Bolak balik nanyain jam karena mau jemput si pacar.

"Udah setengah empat ya, Ki?", tanyanya.

Saya melirik malas ke arloji.
"Ho'oh", jawab saya.
"Gw cabut dulu ya.."

Saya mengangguk dan kembali sibuk dengan pikiran dan perasaan.

Saya ga punya apa-apa sekarang. Cuma doa. Dan itupun bergantung pada keputusan Allah. Saya tahu Dia baik, makanya saya ga berhenti berdoa. Dan apapun itu keputusan-Nya, saya harus ikhlas. Iya, ikhlas. Hal paling berat untuk saya saat ini.

Saya diam. Sibuk dengan pikiran dan perasaan sendiri, sementara di depan saya segerombolan junior tertawa renyah. Saya hilang gairah. Hilang hasrat. Saya berduka.
Labels: 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Saya tersesat lagi. Iya, ga punya pendirian, ga punya pegangan, tapi saya punya mimpi. Dan saya tersesat dalam mimpi-mimpi saya. Sigh..

Okeh, saya bukannya ga takut pergi ke luar negeri sendiri, ga punya sodara, ga kenal siapa-siapa kecuali keluarga Daniel (incl. Tante Judy). Saya takut, tapi sekali lagi, saya yang punya jiwa petualang sejati ini suka dengan hal-hal menantang. Saya belagu, saya akui. Tapi itu modal seorang pemberani, menurut saya.

Tadi siang pikiran saya kacau lagi. Soal aupair dan soal kuliah. Dua pilihan yang sebenernya ga bisa saya pilih. Kenapa? Karena semua tergantung restu Mama. Ya, memang saya pembangkang, tapi untuk setiap keputusan besar dalam hidup saya, saya sertakan maunya Mama.

"Teh?", katanya di seberang sana.
"Ya, Mah..", jawab saya.
"Nanti dibicarakan lagi soal ke Belanda di rumah sama Papa. Mama sih oke aja. Tapi Belanda kan ga jauh..", katanya menjawab isi sms yang saya kirim lima belas menit yang lalu.

Saya diam. Kuat sekali keragu-raguan saat Mama bilang "oke". Dia bingung, apalagi saya. Tapi keputusan harus jelas. Saya menunggu, keluarga Daniel menunggu, egoisme saya menunggu. Sigh..

Sekarang saya jadi ragu. Bukan ragu harus ke Belanda atau ga. Tapi saya ragu, Mama ikhlas kasih restu ato ga. Segimanapun saya ngerayu, setegas apapun beliau bilang boleh, tapi kalo ga ikhlas, saya ga pergi.

Sekarang, jadi ga jelas maunya saya. Sebentar aupair, sebentar kuliah. Aaahh.. Kenapa saya ga dikasih keteguhan hati saja? Biar saya gampang ambil keputusan. Biar saya ga ngerepotin semua orang! Saya benci seperti ini. Saya masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat. Saya mau sendiri.
Labels: , 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Aku mendadak insomnia.
Terjaga ketika ribuan jiwa terlelap dalam gelap.
Mataku tak ingin terpejam meskipun kantuk menyerang.
Jantungku berdetak lebih kencang bak menyantap ribuan ton kafein.
Aku mulai tak bisa mengendalikan desakan dari dalam diri.
Amarah itu muncul.
Dia menampakkan wujudnya.


Mereka bertengkar. Entah untuk alasan apa. Wanita membatu dalam bisu, kemudian pria berlalu dalam semu.

Mereka bertengkar. Entah untuk alasan apa. Wanita angkuh dalam peluh, kemudian pria melemah gelisah.

Mereka bertengkar. Entah untuk alasan apa. Wanita egois menangis, kemudian pria tertatih merintih.

Mereka menyendiri sendiri. Berhenti mengerti, kemudian pergi dalam sepi. Berharap duka sirna ketika malam tiba namun tanpa ada rasa.

Mereka bertengkar. Entah untuk alasan apa. Tapi mereka bilang itu cinta.
Labels: 1 comments | edit post
Rizqi Amalia
Aku udah kehilangan hampir
segalanya sekarang
Kamu;
Dan separuh aku!

Kamu udah pergi..
[Meninggalkan aku]

Tau ga sih?
Ketika kamu pergi,
Kamu emang ga bawa apa-apa..
Tapi, nyadar ga sih?!
Kalo kamu udah bawa
potongan hati aku?

[Separuh Aku]
Labels: , 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Ini adalah pengakuanku
Disaat langit yang dulu biru menjadi hitam
Saat gemuruh hati meledakkan semesta nada-nada
Saat titik air mata persatu basahi pijakan kaki

Aku yang dulu berucap dengan katamu
Melihat dari pandanganmu
Dan aku yang kini dengan dagu tercuat berteriak padaMu

Wahai Adam terbalut jubah egoMu,
Kukebumikan raga tanpa cinta
Kulepaspergikan segalaMu yang erat merengkuh setiap detak dari nadi
Keindahan..
Keagungan
Kuasa yang membelenggu jiwa
Dari sudut-sudut kosong setiap ruang
Dengan jejak-jejaknya menghilang dari setiap inchi sel otak
Merenggut habis rasa segala aku
Menyisakan air mata tak habis termakan waktu dan pesakitan yang tak sampai pada akhir


(maaf harus kutuang dalam lembaran kusam dengan tinta hitam)

16 Maret 2005
08.30 am
Labels: , 0 comments | edit post
Rizqi Amalia
Nenek gerondong tanya soal ketulusan ma Nyi Rombeng tadi pagi..
Nyi Rombeng bilang,

"tulus itu..
menghadirkan apa adanya dia di hidup gw.
mengomentari kejelekannya tapi tetap mengaguminya.
sayang meskipun kadang rasa sebelnya lebih besar.
membiarkan dia putuskan sesuatu dalam hidup dia meskipun ga ada gw di dalamnya tapi tetap mensupport.
rela nemenin dia nonton meskipun malesnya amit-amitan.
ngasih ice cream kesukaan gw.
ga ikut sedih waktu dia sedih tapi berusaha bikin dia ketawa.
jealous dengan kadar yang wajar cuma agar dia tau kalo gw sayang dia.."

tapi tulus bukan berarti gw rela disakitin.
gw harus punya prinsip. prinsip bikin gw hidup.
mimpi bikin hidup gw terus berjalan.
punya batasanya sendiri kapan harus mulai ato terhenti.

gw cape..
tapi belum pada "batas cape"nya gw..


Nenek gerondong tanya lagi soal batas cape Nyi Rombeng.
Nyi Rombeng bilang,

"saat gw mencoba beribu kali tapi tetap ga membawa perubahan.
saat gw tau kenapa tapi menolak tau mengapa.
saat hidup semua orang terus berjalan tapi gw terhenti di sini.
saat air mata tak bisa keluar tapi tetap "menangis".
saat ada bias sinar tapi gw tetap menatap kegelapan.
saat gw berjalan dengan raga tanpa tau jiwa gw dimana.
saat semua orang tertawa dan gw hanya jadi patung tanpa ikut tertawa."

saat itu gw merasa keadaan yang gw pilih meninggalkan gw.
saat itu gw terus bertahan tanpa sadar kemampuan gw habis di sini.

gw ngerasa cape..
dan akan menangis sambil menertawai diri gw.

gw akan ngerasa cape..
tertidur tapi tidak terpejam.

menarik nafas panjang dan berkata pada diri sendiri
"ok, this is the time.."


Nenek Gerondong masih bingung soal "ok, this is the time.." apa, tanyanya lagi.
Nyi Rombeng bilang,

"this is the time untuk berhenti merasa yang gw lakukan adalah sebuah keharusan..

'kulepas kamu lepas aku'

menoleh sesaat ke belakang lalu terus menatap ke depan. tidak melupakan karena manusia hidup dengan masa lalunya..

lalu gw melangkah dengan mimpi gw yang "ketinggalan" saat gw mengejar kehampaan.."


Nenek Gerondong berkata, "Lo, pantas dicintai, Ki"


NOTE:
Woy! Nenek Gerondong.. Kuliah dunk lo!!
Gw kangen ni.. (Hweks!!)
Labels: 0 comments | edit post